khumur dan jilbab

Blog Entry

Dasar Hukum: al-Qur’an surah an-Nur: 31 dan al-Ahzab: 59

Hadist Nabi SAW:

  1. Dari Aisyah r.a. ia berkata bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah saw dengan memakai pakaian yang tipis, maka Rasulullah saw. berpaling daripadanya seraya bersabda, Hai Asma! Sesungguhnya perempuan itu apabila ia telah dewasa/sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya, melainkan ini dan ini. Sambil Rasulullah menunjukkan muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangannya sendiri. (HR. Imam Abu dawud).
  2. “Apabila anak wanita telah melihat (darah haidnya) maka dia tidak boleh tampak tubuhnya kecuali mukanya dan kecuali selain ini. Seraya Rasulullah saw menggenggam dengan tapak tangan sepanjang genggaman yang lain” (HR. Imam at-Thabarani).
  3. Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu: 1. Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi (cemeti). 2. Perempuan yang berpakaian tetapi telanjang cenderung kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk onta, mereka ini tidak akan bisa masuk surga. Dan tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium sejak perjalanan demikian dan demikian tahun.” (HR. Imam Muslim).
  4. “Kata Aisyah r.a.: Mudah-mudahan Allah mengasihani orang-orang perempuan yang ikut hijrah dahulu. Ketika Dia turunkan ayat-ayat “Dan hendaklah perempuan-perempuan mukmin itu mengulurkan kerudung mereka atas dada dan leher mereka.” Mereka sama merobek kain-kain mereka yang belum terjahit, lalu mereka pergunakan kudung kain-kain itu”. (HR. Imam al-Bukhari).

Pengertian Khumur dan Jalabib

„…wal yadribna bi-khumuri-hinna walaa yubdiina ziinatahunna …“(QS An-Nur: 31)

Khumur adalah jama’ dari khimar yaitu kerudung yang menutupi kepala, dan juyub adalah jama’ dari kata jayb yaitu ujung pakaian (kancing pembuka) yang ada di sekitar leher dan di atas dada. Dengan kata lain khimar adalah kain yang menutupi kepala tanpa menutupi wajah, terulur sampai menutupi ujung pakaian bawah (jilbab) yakni kancing baju di atas dada. Dengan demikian untuk bagian atas badan wanita diwajibkan mengenakan kerudung yang diulurkan sampai ujung pakaian (kancing pembuka)/di atas dada. Sedangkan bawahnya diperintahkan menggunakan jilbab.

„…yudniina alayhinna min jalaabiibi-hinna …“ (QS Al-Ahzab: 59)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa jilbab (pada nash tersebut) maksudnya: baju luar yang berfungsi menutupi tubuh dari atas sampai bawah (tanah). Dalam kamus arab Al-Muhith, jilbab bermakna: Pakaian yang lebar bagi wanita, yang menutupi tsiyab/mihnah (pakaian harian yang biasa dipakai ketika berada di dalam rumah), bentuknya seperti malhafah (kain penutup dari atas kepala sampai ke bawah). Demikian pula yang disebutkan oleh al-Jawhari dalam kitab Ash Shihah.

Khumur (kerudung) dan Jilbab (baju luar/jubah) itu budaya Arab atau Syariat ?

[1] al-Khimar ialah sesuatu yang memang sudah wujud dan dikenali di zaman itu sebelum turunnya ayat 31 (surah An-Nur). Kemudian disusul dengan perintah jilbab (surah Al-Ahzab)
[2] Ayat (surah An-Nur 24: ayat 31) diturunkan bukan bagi mensyariatkan sesuatu yang baru tetapi membetulkan dan memperkuat sesuatu yang sudah ada. Oleh itu al-Qur’an hanya menerangkan cara sebenar memakai Khimar tanpa memperincikan apakah itu Khimar. Memakai kerudung kepala adalah sesuatu yang sudah ada dalam Injil dan ia juga menjadi pakaian wanita bangsawan ketika itu, sekalipun mereka bukan Nasrani. Di sini jelas kepentingan mengetahui sebab-sebab turunnya supaya dapat dipahami dengan betul.

* * * *

Hukum Khumur dan Jilbab (mubah, sunnah ataukah wajib?)

Dasar hukum yang mewajibkan khumur: QS. An-Nur:31, dan jilbab adalah QS. Al-Ahzab:59.

„Ummu Athiyah berkata, Kami (kaum wanita) diperintahkan mengeluarkan para wanita yang sedang haid pada hari raya dan juga gadis pingitan untuk menghadiri jama’ah dan do’a kaum muslimin, tetapi wanita yang sedang haid supaya menjauh dari tempat shalatnya. Seorang perempuan bertanya: Ya Rasulullah, salah satu dari kami tidak mempunyai kain jilbab, jawab Nabi saw. Hendaklah temannya meminjamkan untuk dia jilbabnya.“ (HR. Imam Muslim no.1475).

Artinya jika seseorang tidak mempunyai jilbab dan saudaranya tidak meminjami maka wanita itu tidak boleh keluar. Inilah indikasi (qarinah) bahwa perintah hadits tersebut adalah wajib.

Siapa yang diperintahkan memakai khumur dan jilbab

Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an yang artinya:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkankhumur (kain kerudung) ke juyub (dada)-nya, dan janganlah menampakkan perhiasanyaa, kecuali…“(QS. An-Nur:31)

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-Ahzab [33]: 59).

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini. Beliau menunjuk pada wajah dan telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud, No. 3580].

Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an yang artinya:

Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan (tabarruj), dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. an-Nûr [24]: 60).

Batasan Aurat

….dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya ” (Qs. an-Nûr [24]: 31).

illa mâ zhahara minha yang dimaksud adalah yang biasa nampak pada saat itu (saat ayat ini turun) yaitu muka dan telapak tangan. Imam at-Thabari menyatakan bahwa:

Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa nampak adalah muka dan telapak tangan.” (Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, jld. 18, hal. 94).

„…dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali…” (Qs. an-Nûr [24]: 31).

Kata zinah yang secara bahasa berarti perhiasan, tetapi bukanlah perhiasan yang biasa dipakai orang tetapi makna zinah di sini adalah anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahalu z-zinah).

Mahallu z-zinah yaitu anggota badan yang biasanya dijadikan tempat perhiasan, seperti: kepala seluruhnya, tempat kalung (leher), tempat gelang tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai lutut. Mahallu z-zinah ini biasa tampak ketika wanita memakai baju dalam rumah (mihnah).

Hal tersebut diperkuat dengan sabda Rasul Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar:

Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini. Beliau menunjuk pada wajah dan telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud, No. 3580].

Wallahu a’lam bi s-shaw

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    ardan said,

    hey blog u bgs jga but garingggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggg!!! banget tamabahin yang bagus ya!!!!
    ^_^

  2. 2

    tsani said,

    assalamualaikum
    terimakasih kamu sudah mau mengunjungi blog saya
    thx ya atas saranya
    moga aku jadi yang terbaik
    jangan lupa ajari ya?….
    wassalamualaikum


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: